Pernah Diculik, Quini Si Haus Gol Andalan Barca di Era 80-an

Laporan: FCBI Regional Bandung

Bagi sebagian supporter Barca mungkin akan bertanya-tanya ketika mendengar nama Enrique Castro González, namun ketika disebut bahwa pemain tersebut biasa dipanggil Quini pasti langsung “ngeuh” dan pembicaran pun berlanjut dari prestasi sampai tragedi yang menimpa pemain andalan FC Barcelona di tahun 1980-an ini. Pemain yang lahir di Oviedo, Spanyol pada tanggal 23 September 1949 ini diboyong oleh FC Barcelona dari Sporting Gijon pada musim panas tahun 1980 yang ketika itu sedang berada dibawah asuhan Helenio Herrera. Barca tertarik pada kepiawaian Quini sebagai striker yang haus gol. Meskipun selama bermain di Sporting Gijon (1968-80) dia tidak bisa membawa klubnya menjadi juara. Namun 5 gelar El Pichichi yang diraihnya selama memperkuat Sporting Gijon dan juga berhasil menjadi The Best Spanish Player dalam ajang Don Balon Award cukup menjadi alasan kuat untuk menjadi juru gedor FC Barcelona dengan mahar 82 juta peseta.

Dengan prestasinya tersebut diharapkan menjadi angin segar bagi Barca, dimana pada musim 1979-80 Barca tidak meraih gelar apapun. Yep, Quini benar-benar striker yang tajam dan haus gol sehingga kontan langsung menjadi pemain andalan sekaligus membantu mencapai harapan Barca untuk meraih gelar di musim 1980-81. Di La Liga, kans Barca untuk menjadi juara sangat besar. Namun, pada tanggal 1 Maret 1981 sepertinya menjadi hari yang buruk bagi sejarah persepakbolaan dunia, khususnya bagi Barca. Quini pada hari itu berhasil mencetak 2 gol dan Barca berhasil menaklukkan Hercules dengan skor meyakinkan yaitu 6-0 di Camp Nou. Setelah pertadingan itu, ketika Quini berniat untuk menjemput istri dan anaknya di bandara dari kediamannya, dua orang tak dikenal menodongkan senjata api di depan pintu dan menculiknya ke dalam van. Kejadian ini berdampak buruk bagi Barca. Selama 25 hari Quini di culik, Barca hanya bisa meraih satu poin dalam 6 pertandingan. Penculikan ini memang dimaksudkan agar Quini tidak bisa memperkuat Barca. Hal ini diperkuat dengan adanya telepon yang di terima oleh istrinya dari gerombolan yang menamai dirinya, Batallon Catalano-Espanyol. Dengan tebusan sebesar 100 juta peseta, Quini dilepaskan di Zaragoza.

Dengan trauma yang dideritanya, Quini tetap menunjukan tajinya. Barca berhasil mengangkat trophy Copa Del Rey dengan sumbangan 2 gol melawan “mantannya”, Sporting Gijon. Dan di akhir La Liga, mencatat namanya sebagai el pichichi dengan 20 gol. Selama berkarir di FC Barcelona, Quini berhasil menyabet 2 gelar El Pichichi dari 5 total yang diraihnya selama di divisi Primera. Dan sampai saat ini, Quini menjadi peraih El Pichichi terbanyak ke-3 setelah
Telmo Zarra (6) dan Alfredo di Stefano (5). Serta Quini berperan serta dalam peraihan Piala Copa Del Rey lagi(1982-83), Supercopa (1983), Copa de La Liga (1983) dan UEFA Cup (1981-82) untuk Barca. Pada tahun 1984, Quini memutuskan untuk kembali ke Sporting Gijon setelah bermain sebanyak 178 pertandingan dengan 101 gol yang disumbangkan. Dan uniknya, Quini memutuskan untuk gantung sepatu saat Sporting Gijon menerima kekalahan dari Barca (1-0) pada tanggal 14 Juni 1987.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *