Barcelona dan Iniesta, Pemain Muda, Lugu dan Pemalu

Laporan: Regional Cikarang

Tepat pada tanggal 11 Mei 1984 di Fuentealbilla, Spanyol telah lahir seorang anak yang kelak menjadi pahlawan bagi seluruh kalangan. Andres Iniesta Lujan, siapa yang tak kenal dengan sosok Iniesta yang merupakan seorang gelandang kreatif bertubuh kecil yang berhasil membawa kejayaan tak hanya di Barcelona, tapi juga negaranya Spanyol serta berhasil memenangkan hati lawannya. Seorang bernama Alberto Benaiges menemukan talenta Andres Iniesta saat masih berusia 12 tahun. Iniesta kemudian dibawa ke akademi Barcelona, La Masia pada tahun 1996. Sebelum memutuskan hijrah ke Barcelona, Iniesta sempat berseragam Albacete Balompie. Benaiges sendiri mencium bakat terpendam Iniesta saat turnamen di Albecete Balompie, sebuah turnamen yang mempertemukan 7 pemain vs 7 pemain. “Pertama kali melihat Andres Iniesta sewaktu masih memperkuat tim Albacete Balompie adalah saat turnamen tujuh lawan tujuh pada 1996 yang lalu. Dia sangat kecil, namun juga sangat pintar. Itulah hal pertama yang saya ingat dari Iniesta. Lalu, kami merekrutnya untuk masuk ke Akademi La Masia,” kata Alberto Benaiges.

“Iniesta resmi masuk Akademi La Masia saat usianya masih 12 tahun. Saat itu menjadi masa-masa sulit baginya. Dia sangat menderita akibat harus jauh dari orang tua dan keluarganya. Saya sempat tak yakin dia bisa melalui rintangan ini. Tapi dia tak pernah bilang ingin pergi. Dia memilih bertahan dan itu jadi bukti paling awal determinasinya,” tambah Benaiges. Benaiges akan selalu mengingat Iniesta sebagai pribadi yang cerdas namun sangat pemalu. Bagi Benaiges, dua hal itulah yang membuatnya kagum pada Iniesta, cerdas saat di lapangan dan pemalu dan cengeng bila sudah di kamar. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, saat kecil di Barcelona Iniesta kerap merasakan rindu yang besar kepada keluarganya. Apalagi orang tua Iniesta hanya bisa menemuinya sebanyak 3 kali seminggu akibat jarak Albacete ke Barcelona cukup jauh. Hal itulah yang membuat Iniesta sering menangis jika tengah rindu keluarga. Penyakit homesick tersebut juga kerap membuat Iniesta mengurung diri di kamarnya. Andres Iniesta muda tumbuh dan berkembang di akademi sepakbola milik Barcelona, La Masia.

Awal perjuangannya di raksasa Catalan memang dilalui dengan sulit. Bukan soal kemampuannya, Iniesta kecil justru bermasalah karena harus jauh dari orang tua. Iniesta selalu merasakan rindu yang luar biasa terhadap keluarganya.
Bukannya menyerah, Iniesta justru tumbuh semakin kuat. Hingga akhirnya Don Andres, sapaan Iniesta, berhasil membuat kagum Pep Guardiola, yang nantinya sukses menghadirkan 14 trofi bergengsi saat menjadi pelatih utama El Barca. saat masih menjadi pemain, Guardiola pernah berkata kepada Xavi Hernandez bahwa Iniesta akan membuatnya pensiun lebih cepat dari sepakbola. Perkataan Guardiola tersebut tak lepas dari daya magis Iniesta saat mengolah si kulit bundar yang mampu menyihir para lawannya. Andres Iniesta muda saat bersama Pep Guardiola yang masih bermain untuk Barcelona
“Kamu akan membuat saya pensiun. Namun, anak ini (Andres Iniesta) akan membuat kita semua segera pensiun dari sepakbola,” kata Pep Guardiola saat berbicara kepada Xavi Hernandez kala Andres Iniesta memasuki tim senior Barcelona

Ahli Pencetak Gol Dramatis

Singkat cerita, Iniesta mampu melawan penyakit homesick-nya dan tumbuh sebagai pemain hebat di Barcelona. Sejak muda saat masih bermain untuk Barcelona B, Iniesta yang sudah mencuri perhatian justru sanggup bersaing dengan para pemain senior lain seperti Guardiola dan Xavi. Sering berlatih bersama tim senior Barcelona membuat gelandang yang dikenal dengan kemampuan dribbling-nya itu akhirnya mampu menjadi pemain reguler El Barca. Hingga akhirnya pada musim 2002/03, Iniesta yang masih berusia 18 tahun diberikan kesempatan debut bersama tim utama Barcelona oleh Louis van Gaal. Sejak momen tersebut hingga saat ini, Iniesta masih menjadi tulang punggung Blaugrana di tim utama. Segala macam gelar di mulai dari La Liga, Copa del Rey, Liga Champions. Tak hanya itu, bersama timnas Spanyol, Iniesta juga sudah berhasil meraih gelar Piala Dunia dan Piala Eropa.

Menariknya, prestasi yang sudah diraih Iniesta tersebut tak lepas dari penampilan apiknya di atas lapangan terutama gol-gol penentu kemenangan yang bernilai sangat krusial bagi tim. Iniesta pernah mencetak gol penentu langkah Barcelona ke final saat melawan Chelsea di babak semifinal Liga Champions tahun 2009, tepatnya pada 06 Mei 2009. Gol itu juga menjadi awal kebangkitan Barcelona yang pada tahun tersebut berhasil meraih treble winners. Tak hanya itu, gol kemenangan Spanyol di laga final Piala Dunia 2010 juga berhasil membuat negaranya meraih gelar Piala Dunia. Gol tersebut terjadi 4 menit jelang babak extra time selesai yakni selama 120 menit.

Pemersatu Barca dan Espanyol

Gol tunggal ke gawang Belanda pada laga final Piala Dunia 2010 menjadi momen heroik dan puncak dari kejayaan Iniesta di sepanjang kariernya. Gol tersebut tak hanya bermakna bagi dirinya pribadi, tetapi juga bagi seluruh masyarakat Spanyol yang berhasil menikmati suka cita usai negara mereka berhasil meraih trofi Piala Dunia 2010. Tak hanya itu, satu hal lain yang jauh lebih bermakna adalah gol tunggal Iniesta di final tersebut berhasil memenangkan hati seluruh pendukung Espanyol (rival Barcelona di La Liga).Gol emas Iniesta itu sendiri terjadi pada 11 Juli 2010 di Soccer City, Johannesburg. Usai menerima umpan matang dari Cesc Fabregas, Iniesta sempat mengontrol bola terlebih dulu lalu melepaskan tendangan terukur ke sudut gawang dan berhasil membuat Martin Stekelenburg tak berdaya. Sesaat kemudian, Iniesta berlari ke sudut lapangan untuk melakukan selebrasi. Ia kemudian melepaskan jersey yang ia kenakan untuk menunjukkan sebuah kaos putih yang ia pakai di balik jersey Spanyol tersebut dengan tulisan “Dani Jarque Siempre Con Nosotros”.“Dani Jarque akan selalu bersama kita” itulah arti yang tertulis di bagian depan kaos putih yang dipakai Iniesta usai mencetak gol kemenangan Spanyol di final Piala Dunia 2012 melawan Belanda tersebut.

Dani Jarque sendiri merupakan mantan kapten Espanyol. Jarque adalah sahabat Iniesta saat keduanya masih bermain di tim junior Spanyol. Namun, Jarque akhirnya meninggal karena sakit jantung saat pramusim Espanyol pada 2009 di Italia dan meninggalkan Iniesta untuk selama-lamanya.“Gol tersebut untuk Dani, untuk seluruh keluargaku dan untuk semua orang. Ini adalah hasil dari kerja keras sepanjang waktu dan hasil dari melewati masa-masa sulit,” kata Andres Iniesta usai melakukan selebrasi gol dan penghormatannya kepada Dani Jarque. Singkatnya, gol kemenangan dan aksi simpati Iniesta kepada Dani Jarque menjadi titik balik meredanya permusuhan Barcelona dan Espanyol. Setelah itu hingga saat ini, Iniesta begitu dicintai fans Espanyol, Periquitos yang dikenal memiliki permusuhan dengan fans Barcelona, Cule karena rivalitas di Derby Catalan. Iniesta selalu mendapatkan standing applause yang sangat meriah dari para Periquitos setiap kali dia bermain melawan Espanyol pada laga Derby Catalan di Estadi Cornella-El Prat.

Awal Karier

Iniesta berasal dari sebuah desa kecil bernama Fuentealbilla di provinsi Albacete, Castile-La Mancha. Pada usia 12, saat bermain untuk Albacete Balompie dalam turnamen tujuh-a-side junior di Albacete, ia menarik perhatian pemandu bakat dari berbagai klub di seluruh Spanyol.Orang tuanya tahu pelatih tim muda FC Barcelona, Enrique Orizaola , dan ia membujuk mereka untuk mempertimbangkan mengirim Iniesta ke akademi muda Barcelona. Iniesta ke sana dengan orang tuanya dan mengunjungi La Masia, rumah pertanian Spanyol di mana juga sebagai rumah bagi akademi pemain muda klub. Perjalanan meyakinkan mereka untuk mendaftar Iniesta di jajaran muda Barcelona.

Iniesta mengatakan dia “menangis sungai” di hari ia berangkat ke La Masia dan berjuang karena berpisah dari orang tuanya, di awal kedatangan ia sangat pemalu dan menyendiri. Ia menjadi kapten tim Barcelona U-15 untuk kemenangan di Piala Premier Nike tahun 1999, mencetak gol kemenangan di menit-menit terakhir, dan menjadi pemain bintang dari turnamen tersebut.Iniesta meledak ke kancah internasional pada tahun 2001, membantu Spanyol memenangkan Piala Eropa U-16 Championship, dan berada di skuad Eropa UEFA U-19 Championship pada tahun berikutnya. Sejak itu, ia menjadi pilihan reguler oleh pelatih muda Juan Santisteban. Pada tahun 2003 ia membentuk bagian dari tim Spanyol yang mencapai final FIFA World Youth Championship di Uni Emirat Arab, dan masuk di tim all-star FIFA. Selama bergabung dengan Spanyol U-21, Iniesta menjadi kapten pada beberapa kesempatan.

Awalnya pemain pinggiran, ia dipanggil untuk mewakili Spanyol di Piala Dunia FIFA 2006 pada tanggal 15 Mei 2006, dan sangat mengejutkan banyak orang. Iniesta mendapat caps pertamanya untuk Spanyol ketika ia masuk di babak pertama dalam pertandingan persahabatan melawan Rusia pada 27 Mei 2006.Dia dipanggil untuk Piala Dunia FIFA 2010, dan mencetak gol kedua dalam kemenangan 2-1 melawan Chile. Dia juga terpilih menjadi man of the match. Untuk penampilannya yang sangat baik dalam membantu Spanyol mencapai final turnamen, Iniesta terpilih untuk penghargaan Golden Ball. Dalam ajang UEFA Euro 2012, Iniesta dianugerahi sebagai man of the match untuk penampilannya dalam tiga pertandingan yang berbeda. Dia juga terpilih sebagai man of the match di final melawan Italia, Spanyol yang menang dengan skor telak 4-0. Dengan memenangkan penghargaan, Iniesta menjadi satu-satunya pemain Spanyol yang memenangkan penghargaan setidaknya sekali dalam setiap tiga turnamen berturut-turut dari kesuksesan timnas Spanyol. Iniesta juga terpilih sebagai UEFA Euro 2012 Player of the Tournament.

Kisah Iniesta dan Cinta Pertama yang Sulit untuk Barcelona

Andres Iniesta mengungkapkan bahwa awal ketertarikannya bergabung bersama Barcelona disebut sebagai “hari-hari penuh perjuangan sebagai sosok yang beranjak dewasa”. Gelandang Barcelona itu mengawali masa “jatuh cinta” dengan klub papan atas Liga Spanyol itu ketika berusia 12 tahun. Pada usia semuda itu, ia telah meninggalkan kampung halaman.
Semasa masih anak-anak, ia tidak ingin bergabung ke markas Nou Camp. Dalam usia yang masih relatif muda itu, ia meninggalkan kampung halamannya di Fuentealbilla di Albacete untuk kemudian bergabung ke akademi La Masia. Iniesta kemudian membulatkan tekad untuk meninggalkan keluarganya kemudian bergabung ke Barcelona, sebagaimana dikutip dari laman Daily Mail.”Kesan saya kali pertama, saya tidak ingin meninggalkan rumah karena saya ingin selalu dekat dengan keluarga,” katanya kepada beIN Sports. “Pekan demi pekan berlalu, saya berbicara bersama ayah, kemudian ia memberi tantangan. Bersama ayah, saya memperoleh kepercayaan diri. Saya tahu banyak dari dia mengenai cara menghadapi hidup agar mampu meraih sukses. Selama membela Barcelona, ia mempersembahkan empat trofi Liga Champions, delapan gelar Liga Spanyol dan sederet penghargaan sebagai pemain terbaik. Ia juga membawa Spanyol menjadi juara dunia 2010.

Pemain dan Ayah yang Baik

Andres Iniesta Lujan, Jugador FC Barcelona satu ini tentu sudah tak perlu diragukan lagi kemampuannya di lapangan, namun bagaimana dengan kehidupan dia di luar lapangan? siapa orang-orang dibalik kesuksesan dia selama ini? berikut sedikit cerita mengenai sisi lain kehidupan “La Magica del Barca“. Andres Iniesta bertemu dengan seorang wanita cantik disaat dia mengalami masa-masa sulit, yakni ketika dia sedang masa pemulihan cedera di tahun 2008. Anna Ortiz namanya, seorang wanita yang lahir di Barcelona, 11 Desember 1986. Anna saat itu terus mendampingi Iniesta, mendorong supaya Iniesta tetap semangat dalam menjalani proses pemulihan cederanya. ” Aku benar-benar jatuh cinta kepadanya, dia sudah banyak membantuku” begitu ucapan Iniesta tentang Anna. Anna Ortiz sendiri adalah seorang profesional make-up dan hair stylist, ketika sudah 3 tahun berpacaran dengan Iniesta, pada 3 April 2011, Iniesta dan Anna dikaruniai seorang anak perempuan cantik yang mereka beri nama Valeria. Selang setahun setelah kelahiran gadis cantik berambut keriting tersebut, Iniesta dan Anna menikah, tepatnya pada 8 Juli 2012.

Iniesta dan Anna Menikah

Anna mengatakan bahwa Iniesta sangat dekat dengan anaknya Valeria, bahkan sering bermain sepakbola bersama, meski Valeria seorang perempuan tapi kemampuannya bermain sepakbola cukup baik. “Suatu saat kami akan memiliki anak laki-laki dan itu akan membuat keluarga kami sempurna” ucap Anna ortiz ketika itu. Akhir Oktober 2013, Iniesta dan Anna mengumumkan hal yang sangat menggembirakan, Iniesta melalui akun twitter pribadinya menyatakan bahwa Anna Iniesta sedang hamil anak kedua mereka dan kemungkinan akan berjenis kelamin laki-laki. Sebuah kebahagiaan tiada tara ketika itu, sebuah hal yang keluarga mereka impikan yakni seorang anak laki-laki akan hadir.

Namun tampaknya, Tuhan punya rencana lain untuk keluarga Iniesta, jalan 7 bulan usia kehamilannya, Anna mengalami keguguran, sampai saat ini tidak diketahui dengan pasti penyebab keguguran tersebut. Iniesta dalam satu bulan terakhir sebelum Anna keguguran bahkan selalu menemani Anna di rumah sakit, begitu cintanya pemain FC Barcelona bernomor 8 ini. Meski harus tinggal di rumah sakit penampilan Andres tetap memukau, hingga akhirnya dia harus absen ketika Barca kalah 1-0 dari valladolid untuk mendampingi istrinya.

Beberapa hari setelah berita duka tersebut, Iniesta mengucapkan terima kasih kepada seluruh dukungan yang telah diberikan kepada dia dan Anna, ” Selamat malam, Anna dan saya serta keluarga kami sangat berterima kasih atas pada kalian atas support dan dan kasih sayang selama beberapa hari terakhir ini, Keluarga saya menerima banyak sekali dukungan dan sangat berterima kasih, terima kasih sudah menghargai privasi kami melewati masa-masa sulit ini. kami yakin dari atas sana, si kecil akan selalu membantu kami. Abrazo”

Prestasi Klub Barcelona
• La Liga: 2004–05, 2005–06, 2008–09, 2009–10, 2010–11, 2012–13, 2014–15
• Copa del Rey: 2008–09, 2011–12, 2014–15
• Supercopa de España: 2005, 2006, 2009, 2010, 2011, 2013
• UEFA Champions League: 2005–06, 2008–09, 2010–11, 2014–15
• UEFA Super Cup: 2009, 2011, 2015
• FIFA Club World Cup: 2009, 2011
Internasional Spanyol
• FIFA World Cup: 2010
• UEFA Euro: 2008, 2012
• UEFA Euro Under-19: 2002
• UEFA Euro Under-17: 2001
Individu
• UEFA Best Player in Europe Award: 2012
• Euro 2012 Player of the Tournament: 2012
• UEFA Euro Team of the Tournament: 2008, 2012
• UEFA Euro Final Man of the Match: 2012
• UEFA Champions League Best Player: 2011–12
• UEFA Champions League Final Man of the Match: 2015
• Onze de Bronze: 2009
• La Liga Spanish Player of the Year: 2009
• IFFHS World’s Best Playmaker: 2012, 2013
• La Liga’s Best Attacking Midfielder: 2009, 2011, 2012, 2013, 2014.
• Marca Legend Award: 2011
• FIFA Confederations Cup Silver Ball: 2013
• FIFA Puskás Award: 2nd place 2009
• FIFA World Cup Dream Team: 2010
• Man of the Match of FIFA World Cup Final: 2010
• FIFA FIFPro World XI: 2009, 2010, 2011, 2012, 2013, 2014
• UEFA Champions League Team of the Season: 2014–15
• UEFA Team of the Year: 2009, 2010, 2011, 2012
• ESM Team of the Year: 2010–11
• Golden Foot: 2014.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *